Tradisi Di Bima
Masih
banyak orang yang belum mengenal dengan dalam Suku Bima. Suku ini
adalah salah satu suku yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB). Kebanyakan anggotanya mendiami Pulau Sumbawa bagian timur
tepatnya di Kota Bima dan Kabupaten Bima.
Suku Bima dikenal masih
menjaga warisan leluhur. Tradisi yang dipegang erat secara
turun-temurun adalah cerminan keteguhan masyarakatnya.Berikut ini ada
lima tradisi unik dari Suku Bima yang masih dilakukan oleh masyarakatnya
hingga sekarang dan belum banyak diketahui orang.
1. Rimpu
Rimpu
merupakan tradisi berbusana untuk kaum perempuan suku Rimpu merupakan
tradisi berbusana untuk kaum perempuan suku Bima dengan menggunakan
sarung tenun khas Bima yaitu “Tembe Nggoli”. Cara pemakaiannya
membutuhkan dua lembar kain, yaitu satu lembar kain pertama yang
dililitkan ke kepala dan menyisakan bagian terbuka untuk wajah, lalu
sisa kain dijulurkan hingga ke perut menutupi lengan dan telapak tangan.
Kemudian untuk kain kedua dikenakan dengan cara melipatkan kain di
pinggang hingga ke bawah seperti penggunaan kain sarung pada umumnya.
Konon,
tradisi berbusana ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Bima. Meskipun
tradisi berbusana rimpu ini sudah mulai jarang digunakan oleh generasi
muda suku Bima sekarang, namun kini mulai sering diperkenalkan kembali
pada acara-acara kebudayaan yang diadakan oleh dinas kebudayaan
setempat.Bima dengan menggunakan sarung tenun khas Bima yaitu “Tembe
Nggoli”. Cara pemakaiannya membutuhkan dua lembar kain, yaitu satu
lembar kain perta
ma yang dililitkan ke kepala dan menyisakan
bagian terbuka untuk wajah, lalu sisa kain dijulurkan hingga ke perut
menutupi lengan dan telapak tangan. Kemudian untuk kain kedua dikenakan
dengan cara melipatkan kain di pinggang hingga ke bawah seperti
penggunaan kain sarung pada umumnya.
2. Mbolo Weki
Tradisi Mbolo Weki biasanya diselenggarakan untuk mempersiapkan suatu acara penting dari sebuah keluarga suku Bima. Misalnya acara pernikahan, dalam tradisi Mbolo Weki pada persiapan acara pernikahan perwakilan keluarga yang hadir akan memberikan bantuan berupa uang ataupun beberapa kebutuhan kepada keluarga yang akan menyelenggarakan hajatan untuk membantu persiapan acara pernikahan tersebut.
Salah
satu tradisi yang masih berjalan saat ini ditengah masyarakat suku Bima
adalah Peta Kapanca. Peta Kapanca adalah ritual khusus bagi calon
pengantin wanita suku Bima sebelum menikah. Ritual Peta Kapanca
dilakukan satu hari sebelum prosesi akad atau pesta pernikahan.Pada
ritual ini, kapanca atau daun pacar yang sudah dihaluskan akan
ditempelkan di kedua telapak tangan calon pengantin wanita secara
bergilir oleh ibu-ibu pemuka adat, tokoh masyarakat dan tokoh
agama.Makna filosifis dari tradisi Peta Kapanca ini yaitu, daun pacar
yang dilumatkan dan ditempelkan pada kedua telapak tangan sang calon
pengantin wanita sebagai simbol bahwa sebentar lagi calon pengantin
wanita tersebut akan menjadi seorang istri dari calon pengantin pria
yang sudah meminangnya. Hingga kini, tradisi ini masih terus
dipertahankan oleh masyarakat suku Bima.
4. Tenun Tembe Nggoli
Salah satu hasil kain tenun tradisional khas dari Bima ini adalah Tembe Nggoli. Bagi masyarakat Bima, sarung tenun Tembe Nggoli ini adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan hingga kini.
Sumber; https://ntb.idntimes.com/travel/journal/arifina/tradisi-suku-bima-c1c2-regional-ntb/5
Komentar
Posting Komentar